Rabu, 29 Juni 2011

WARGA TANPA NEGARA = HIDUPI DUNIA TANPA JEDA

Kasus penyiksaan atau dehumanisasi TKI di luar negeri terus saja bergulir. Apa yang terjadi dianggap oleh negara sebagai kecelakaan wajar dalam dunia kerja atau resiko pergulatan hidup di luar negeri. Berangkat dari kasus itu, logis juka kita mengajukan gugatan, benartkah pekerja Indonesia di luar negeri (buruh migran) masih menjadi warga yang punya negara? Benarkah negeri ini masih merasa mempunyai rakyat yang sedang bergelut mengadu nasib dan berjuang di negeri lain? Tidakkah yang terus terjadi menimpa TKI menjadi indikasi bahwa mereka menjadi gologan “warga tanpa negara”?
Secara de jure, negara ini memang masih mengakui bahwa TKI yang bekerja di Malaysia, Brunei, Hongkong, Arab Saudi, Singapura, dan sejumlah negara lain yang menjadi “primadona” TKI adalah warganya. Akan tetapi, dalam realitasnya, negara ini belum menunjukkan jati diri sebagai negara yang tampil prima dalam membela, melindungi, dan mengadvokasinya.
Mereka (TKI) yag sudah memberikan banyak devisa kepada negeri ini, yakni lebih dari Rp 10 triliun per tahun, ternyata dibiarkan menjadi anak negeri yang nyaris mutlak sebagai objek perdagangan manusia (human trafficking) atau kekerasan individual (majikan) maupun kekerasan korporasi (perusahaan) secara terus-menerus dan berlapis.
Selama satu dekade terkhir, angka kematian buruh migram melambung. Tidak hanya meregang nyawa, mereka juga menjadi korban kekerasan dan penyiksaan. Angka kriminalitas tersebut menunjukkan terjadi penurunan martabat bangsa Indonesia di hadapan bangsa lain yang mengeksploitasi pekerja dari tanag air.
Data tersebut menunjukkan bahwa TKI yang bekerja di negara-negara lain menepati ranah layaknya menjalani hidup tanpa negara (life without state). Mereka tetap menyebut diri sebagai warga RI atau diakui oleh negara berstatus WNI, tetapi negara ini membiarkan harkat kemanusiaannya terus menerus diinjak-injak oleh bangsa, korporasi, majikan, dan khususnya bandit-bandit yang memperdagangkanya.
Mereka terpaksa menikmati pendritaan dalam diam atau menerima dehumanisasi yang menimpanya demi keberlanjutan hidup di negara lain. Sikap itu tak lepas dari perlakuan negara yang menempatkannya sebagai warga kelas dua (underprivilege) dan bukan elemen negara yang mempunyai hak hidup berkeadaban.
Negara sebatas bangga menerima kucuran uang triliunan rupiah dari pahlawan devisa. Negara kurang maksimal menindaklanjuti kebanggaannya itu dengan langkah humanis, progresif, dan cerdas dalam memediasinya. Negara baru menyiapkan antivirus ketika virusnya menampakkan (dipublikasikan) keganasannya dalam mencabik-cabik martabat TKI.
Ketika TKI sudah berada di luar negeri, pemerintah sebaiknya tidak sebatas menunggu laporan atau mendengarkan testimoni dari TKI yang bermasalah atau mencari kambing hitam kepada PJTKI yag diduga pelat hitam.
Stigmastisasi TKI sebagai warga tanpa negara akan berlanjut manakala yang disembuhkan oleh pemerintah hanya virus yang “sedikit” muncul ke permukaan. Kepahlawanan TKI terbatas sebagai gambaran komunitas serba tak berdaya di tangan elemen negara yang mengidap virus miskin kerja.
Inilah penderitaan yang membahasakan kondisi buramnya TKI di luar negeri. Mereka hanyalah sesosok warga tanpa jeda yang menghidupi dunia tanpa jeda, yang ternyata tak bisa dipandang sebelah mata.

Selasa, 14 Juni 2011

DONGENG ORANG PANDIR

Gema Politik bersua riuh. Presiden bernyanyi dan para menteri pun menari. KPK menabuh genderang sementara Fraksi DPR meraung. Ohooo....Ini berita bukan tentang Gayus lagi. Ya kecuali kalau ia berlabuh kembali di negeri orang.
Welcome, Opera Negeriku tengah diputar.
Bui menengadah, menantikan kepulangan Nunun Nurbaiti dari ketiak singa yang dikabarkan tervonis Amnesia Akut. “Hahahahah....”. Dasar orang pandir ! Lupa ???? Setelah uang yang ditilep itu mungkin sudah jadi feses di Pintu Air. Sungguh lupa ??? atau gagap nggak punya alasan sekelas Gayus ???? Tapi boleh juga dicatat sebagai bahan ujian nasional.
Nyontek dan ngrepek tabu kan ? Apalagi browsing ? Tapi kalau open book kan nggak ! Nah, kalau tertangkap mata pengawas bilang “Apa yang saya lakukan, Pak/Bu ? Saya lupa !” nggak sulit ditebak, pengawas pasti dengan geram menimpali “You’re too foolish. Anak ingusan juga tahu yang kamu lakukan. Berlagak lupa lagi !” Jangan takut. Jawab dengan nada ringan, “Nunun kan juga gitu, Pak/Bu ? If I too foolish, Nunun ????” Dengan jawaban itu, pengawas pasti akan mikir 1000 kali bahkan lebih untuk menulis diberita acara.
Coba bayangkan, kalau semua pencuri atau pembunuh yang tercekal kemudian takut dirajam bertindak seperti Nunun, Sule dan Opera Van java pasti gulung tikar. Negeri ini nggak butuh komedian lagi, sebab negeri ini panggung komedi terkonyol didunia.
Eits ! Jangan pindah chanel. Saksikan lanjutan cerita Melinda-Dee. Koruptor yang harus operasi karena sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Ada lagi Nasaruddin, dan mungkin masih banyak lagi yang belum tercekal. Uniknya, setiap abdi negara yang tersandung masalah, pasti larinya ke Singapore. Logikanya, negeri itu bisa tambah kaya dengan devisa sumbangan pelarian.
Apa, istana negara kandangnya koruptor ? Ohhh....tidak. Kalau Indonesia ladang pembajakan, bumi teroris, mungkinkah istana negara juga kandang koruptor ?
Aku kian tertawa menggelitik. Mereka bertingkah seperti orang kolot yang primitive. Mereka berpikir dangkal sekali, mengira kita ini orang awam yang gede fisik mental NOL.
sadarkah ? Even terjadi di Indonesia setiap waktu, dan seketika itulah terjadi ajang perdebatan.
1. 5 tahun sekali pemilu, its mean: minimal 5 tahun sekali KPU dihunjam demonstran dan tuntutan partai
2. Sepakbola, juga tak kalah ikut andil ambil masalah. Mulai dari Nurdin Halid sampai sanksi FIFA
3. Kira-kira Great Concern Justin Bieber di Gedung Internasional Sentul, Jakarta mengisap masalah ?

Senin, 16 Mei 2011

This's Real or Just Dream???

Misteri ini menorehkan banyak teka-teki, tentang siapa dia ? ada apa dengannya ? dan bagaimana ia melangsungkan hidupnya selama ini ?
Sungguh tak pernah aku berpikir kian jauh,hingga masalah ini penjadi sedemikian peliknya. Konsekwensi apalagi yang akan terjadi ? ahh...siapa gerangan yang mengetahuinya kecuali Sang Esa.
Kami dibawanya beranjak dari logika, berayun-ayun dalam kancahnya yang semuanya serba menggelitik ditengkuk. Kami tak pernah tau apa memang benar itu adanya, atau hanya fiktif dan rekaan belaka.
Seolah instingnya mendeteksi kegentingan disini,dengan mata yang selalu diliputi rasa curiga. Hingga hidup ini, setiap detinya terasa mencekam. Setiap sudut suatu ruam, setiap celah dalam sinar, dan setiap riuh yang tersampaikan terselip sepasang mata mata-mata.Ya, dia marah dan dia sakit hati. Apabila keberadaannya sebagai lawan bicara dalam kesunyian siapa saja yang merasa dirinya sendiri terusik.
Mungkinkah ini bagian dari sesuatu yang selama ini diketahui sebagai titisan ?

Aku teramat sadar, aku tak sepenuhnya berhak untuk mengolak-alik lintasan hidupnya. Kalaupun dia mendapati jalan yang keliru dan berlubang gelap, darimana pula kami membenahinya, menyalakan senter untuk membantunya keluar. Ataukah mungkin, senter yang kami bawa tak cukup terang dibanding kegelapan dimatanya. Kalau begitu hanya cahaya imannya lah yang dapat menuntunnya supaya tetap berpijak.
Terlepas dari itu, aku tak ingin tahu, tak mau tau, dan tak ingin berusaha untuk tahu rumor tentang teman khayalannya. Itulah kepercayaannya. Tak satupun boleh untuk ikut campur jika sudah menyangkut kepercayaan.

Aku sudah merasa cukup atas teman-teman yang dikirimkan Allah untukku. Agar menjadi kawan mainku. Aku ingin selamanya oranglain pun dapat menyaksikan bagaimana temanku itu merengkuhku dengan sebuah ikatan persahabatan yang nyata. Bukan sebuah ikrar yang terselubung, bukan pula sebuah korelasi yang tak tampak kasat mata.

Sabtu, 14 Mei 2011

MULTI THALENT

Stratford-Ontario, had saved the biggest wonder to Canada. 16 years ago on March 1st, had born a idol as a gift from god to Pattie Malette.
Oneday, a little problem could damaged this nice family. Lastly, the right of Children fall to mother. From that time, Pattie Malette be a single parent who taken care her son by well. This fact, forced the son, past his life without father figure.
He growth be shy boy. He love music because his father often taught to him. He began to hit drum, to press keyboard tuts, and hold guitar string. His god skill, made him agile to try dance. Whatelse, he can sing with cute sound.
His lovely mother not forget to record him, and upload to Youtube. Not long, he get contract offer.
Although, he undergo broken home. But, he never miss his parents’ love. Because he born as youngest musician in world. Now, he’s rich, has many fans, so he can do anything. even go arround worldjust for visited people who love him.
This’s about JUSTIN DREW BIEBER for Belieber Fever wherever. Justin Never say Never. Although he never thought that he can walk to fire, although he never had the strength to take it higher, but he always try repeat and repeat because nothing’s imposibble.Don't afraid to falling down.

Sabtu, 07 Mei 2011

When I Talk About...

Aku semakin sarat berpijak dibumi ini. Dihunjam bimbang yang bertubi-tubi. Ya, kini aku nyaris menjadi pemain dalam panggungku. Ikut andil, sementara aku sendiri turut terajam diluar logika. Aku baru saja melepas sepi yang kugenggam selama ini. Dan aku tak terbiasa dengan pola hidup baru. Aku tak terbiasa bermain kenyataan, bahwa kenyataan ini bukanlah sebuah kebetulan tetapi proses yang terencana. It’s mean, seandainya segala sesuatunya tak berjalan sesuai yang ku mau, itulah tandanya hidupku mulai tak beralur lagi. Konsekwensinya, aku tergulir dalam permainan waktu yag melelahkan. Lelah yang menitikkan banyak peluh hanya untuk sebuah kesenangan.
Aku memang inginkan pengakuan yang nyata. Dan aku mendapatkannya sekarang. Tetapi pengakuan ini, memaksaku mengikuti bagaimana roda zaman berputar, detik beralih dan hari bertukar. Semua yang kuanggap percuma, sia-sia, tak masuk akal, kini tersaji dihadapnnku.
Aku dibuat bingung sebingung-bingungnya. Aku tak mau masa yang seharusnya indah ini kembali suram dan menyurut. Tapi aku juga tak mau jati diriku rebah apalagi sampai terbencah. Aku tak mau pendirian ini sampai gontai.
Aku sudah terlampau jauh dalam kepura-puraan ini. Mengikuti arus biak yang mungkin takkan pernah berujung-pangkal. Aku tak sendiri disini. Tapi, aku berada dalam kesepian ditengah keramaian. Dunia ini nyaris rancu. Mati dalam keadaan hidup, itulah renjana yang sebenarnya.

Kamis, 05 Mei 2011

SUARA KU BERHARAP

Keberhasilan ranah pendidikan, tak akan mungkin sukses tanpa sinergi antara pendidik dan peserta didik. Kadangkala, jangankan terbuka apa adanya, bertanyaa saja tak sedikit murid yang merasa malu atau takut. Kira-kira kenapa yaaa...???
Kebanyakan, murid menganggap guru sebagai monster atau manusia yang paling ditakuti. Salah ngomong sedikit, langsung dech nilai ulangan turun. Atau, jadi sasaran amukan ketika gurunya lagi BADmood alias banyak masalah. Masalah apa sich?? Atau yang lebih mungkin, digertak guru gara-gara banyak bertanya. Kalau kayak gini, perlu mikir-mikir dan menimbang-nimbang untuk menjadikan guru sebagai kawan.
Mulanya, anggapan-anggapan itu hanya ketakutan yang tak berarti. Tetapi, akankah tetap menjadi tak berarti jika banyak respondet yang mengatakannya? Kondisi lain turut mendukung, siswa enggan bertanya karena ketakutannya mendapat stigma “ssiwa ter-BODOH”. Jadi dia terkesan diam saja. Nah, kalau terus-terusan diam, kapan ngertinya?? It’s completely.Tips dari salah seorang pengajar SMANISDA, kalau kita ingin bisa, kita harus punya sikap cuek (bahasa gaulnya whatever). Sebab kita ingin berkembang dan lebih baik dari detik ini. Nggak peduli prasangka orang lain tentang kita, asalkan kita nggak menyakiti hati orang lain, itu nggak dosa koq. Masalah dimarahi guru (something like that) atau apapun yng akan terjadi setelah itu, sudah menjadi resiko dari pertanyaan reader yang mau tidak mau harus masuk dalam telinga reader jika memang terjadi (entah masuk kanan keluar kiri atau sebaliknya, bahkan mampet ditelinga karena saking pedasnya).
Seandainya, kita sebagai siswa boleh request tentang sikap guru yang kami idam-idamkan (ya nggak boleh-lah, itu nggak semudah request lagu @ IBS FM), dan boleh selalu jujur (sejak kapan jujur nggak boleh ?) kalau kita keberatan tentang salah satu 1 (atau salah 2,3, atau banyak atau semuanya) sifat dan sikapnya.

Gimana sich sosok guru yang paling digemari ?? ( yang seperti ***R*E, *O*I*, *U**, dst// tulisan apa sich ?)
1. Humoris tetapi serius
2. Tidak mengikat (secara ini guru bukan hukum)
3. Bukan face yang menegangkan
4. Bukan yang diam tetapi menghanyutkan
5. Sabar (sebab kami LOLA= loading lama)
6. Murah senyum
7. Nggak pilih kasih
8. Pribadi yang menyenangkan dan nggak nge-boring-in
Supaya reader tidak mengira writer terlalu subyektif dan sok tahu, dibawah ini writer lampirkan respondet SMANISDA. Jadi, kami obyektif dan saling terbuka. Kritik dan pujian ini tidak bersifat menjatuhkan, namun ini merupakan usaha kami dalam memperbaiki relasi antara pendidik dan peserta didik.

EMANSIPASI PELAJAR

Selama ini, dunia global ricuh dengan kemelut politik dan persaingan yang semakin memanas. Pelajar hanya bisa menjadi penonton yang terabaikan.

Kita hidup dibawah naungan imperialisme modern. Dimana mulut kami dibungkam dan apresiasi kami tak pernah didengar. Sebagai pelajar, kami memang perlu belajar. Namun, tak semua yang kami suarakan adalah suatu kesalahan besar. Walaupun, belajar merupakan tahap dari tidak tahu menjadi tahu. Bukankah ruang publik itu tidak hanya untuk para politisi ?? (nggak koq, buat pengamat ekonomi juga)
Pelajar juga berhak untuk memperoleh suatu kebebasan. Bukannya hanya mengekor pada norma orang tua yang sudah ada sejak lama. Kami berhak juga untuk mengkritisi kinerja para pendidik kami. Sebab, sebagai pendidik mereka juga manusia, kan? Yang kodratnya tidak luput dari kesalahan sekecil apapun (Ingat no body perfect).
Kami terjepit (aw..aw..sakit !). Dan kami terhimpat diantara keterikatan tugas yang lambat laun membinasakan kreativitas kami. Diantara setumpuk (hah, setumpuk? Banyak banget !) lembar tugas yang menyita ¾ hidup kami setiap harinya (setahun berapa yaa?), sehingga menepis waktu-waktu yang seharusnya kami pergunakan untuk mengembangkan thalenta. Namun, bukannya kami mengeluh dan tak berusaha mengerjakan tugas itu dari jauh-jauh hari. Sebab kami sudah cukup mengorbankan tak sedikit waktu istirahat kami (naas bangett..). Bahkan, kami tidak punya cukup waktu mempelajari materi besok atau materi yang telah kami peroleh paginya. Ditambah lagi, seringkali kita mematok ulangan 3 pelajaran dalam sehari. Beruntung kalau kita memperoleh toleransi, tetapi jika tidak tamatlah riwayat kami (iuh..segitunya !!). Nampaknya itu belum cukup. Sebab kita harus masih berurusan sama remidi yang kapanpun datang menjerat (bisa nggak remidi pergi jauh dan nggak kembali??). Walaupun kami sudah menjadikan buku sebagai sahabat sejati siang dan malam (buku sebagai sahabat manusia ?). Kami tak ingin terpaku pada teori tanpa peng-aplikasi-an, dan bagaimana aplikasi itu dapat kami lakukan jika kami buta akan lingkungan sekitar. Buta karena kita terlalu menutup mata atas fenomena di lingkungan itu. Sebaliknya terlalu membelalakkan mata pada tugas yang sedemikian bentuknya ala RUMUS (A.B=AB cos α; s=v0t+ ½ at2 ;PV=nRT; V∞n// deuh, koq mbulet ya..) dan HUKUM (efek doppler,hukum archimedes,hukum newton 1 2 3,hukum lavosioner,teori lewis-kossel, hukum kepler 1 2 3, hukum gay lussac, teori avogadro// dan masih banyak yang nggak disebutin cz ‘ntar kertasnya nggak muat). Ilmu itu bermanfaat kalau dapat diterapkan, bukan saja diatas kertas ulangan tapi dapat dirasakan manfaatnya dalam kehidupan?? (bukan manfaat karena lolos dari jeratan REMIDI). Raga kami hanya sebatas raga siswa SMA yang ringkih. Dan kami juga hanya manusia yang pikirannya bisa mampet. Sehingga butuh waktu refreshing agar otak ready to fill. Inikah yang dinamakan sekolah bertaraf internasional, memberi sekat pada relasi kami dengan lingkungan? Atau membuat beda mainset kami dengan siswa sekolah lain ? kalau seperti ini, citra SMA sebagai sekolah dengan masa paling indah patut dipertanyakan.
sebenarnya, apa makna sebuah tugas ?? mempersiapkan dan membiasakan kami untuk berbagai tantangan di dunia mahasiswa nanti ? (it’s okay, fine). Tetapi, akankah makna itu tetap menjadi makna yang berarti, jika jam-jam, menit-menit, maupun detik-detik yang kami punya dirumah tidak cukup mengerjakannya. Akhir-akhirnya, nyontek akan jadi prioritas utama. Mengapa tugas harus banyak kalau tugas yang sediki saja sudah memiliki bobot yang utama? Jadi beri kami spasi agar kami bisa menghirup nafas kebebasan (nafas kebebasan mengandung O2) dan merasa sedikit dihargai. Jangan khawatir kebebasan kami akan lepas dari tanggung jawab, sebab kita memiliki kendali. Jadi, tidak perlu mengikat kami dangan tugas-tugas itu, cukup ala kadarnya saja.