Selasa, 23 Agustus 2011

ANAK INDONESIA

Meneliti potret dan riwayat tunas muda di Indonesia memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Sungguh sangat mengenaskan apabila negara Indonesia yang memiliki duta di PBB sebagai pemegang kursi IMF ternyata memiliki catatan suram tentang perkembangan bangsanya. Sementara pemerintahan sibuk mengurusi kemelut politik dan korupsi yang tak ada habisnya, seakan anak-anak Indonesia juga mulai hengkang dari nilai kejujuran. Mereka sudah mempraktekkan nilai korupsi dalam alur hidup mereka. Ya, walaupun masih dalam taraf yang bisa ditolelir. Tapi mereka berkecimpung sudah terlalu jauh seiring bertambahnya umur mereka dalam hitungan detik. Contoh yang mudah,
Dalam 24 jam berapa kali mereka berbohong? Dalam 1 kali test berapa banyak soal yang mereka kerjakan dengan jujur ?
Sadarkah anda bahwa perkembangan ICT juga turut andil dalam mempertipis kadar kejujuran mereka. Mungkin jika anda masih ingat, sewaktu SD anak-anak biasanya mencontek dari mulut ke mulut. SMP mereka mulai memberanikan diri untuk OPEN BOOK UNDER THE DESK atau bahasa gaulnya ngrepek. Kemampuan ini mereka kembangkan ketika pelaksanaan UNAS, mereka menggunakan praktek perjokian yang lumayan merogoh rupiah. SMA mereka memakai fasilitas Google search memecahkan pertanyaan yang berupa Essay. Tanpa sadar mereka berusaha untuk perlahan membinasakan pola pikir mereka.
Tak hanya itu, jika anda mengamati dengan jeli, perpustakaan kini banyak terbengkalai. Padahal pemerintah daerah sudah mengalokasikan pendapatannya untuk memperelok gedung perpustakaan. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk menarik pengunjung. Berbicara perpustakaan takkan luput dari toko buku. Stock buku pengetahuan dari sejumlah toko buku ternama selama sebulan ini belum juga habis 10%nya. Tetapi stock novel yang harganya jauh melambung itu, belum seminggu sudah ludes. Ini menandakan rendahnya minat baca siswa terhadap ilmu pengetahuan. Mereka enggan membaca buku pengetahuan yang terdiri atas <200 halaman. Sementara sangat gemar membaca novel yang tebalnya mencapai 10 cm.

Orang Pertama Australia Ditemukan

SYDNEY, Fosil orang pertama penghuni Autralia diemukan. P ara arkeolog memperkirakan, usia fosil itu 45.000-50.00 tahun. Tim arkeolog menemukan disekitar tepi gurun pasir di wilayah barat laut, tepatnya di dekat tepi Danau Gregory.
“Fosil ini adalah bukti pertama ktifitas manusia di wilayah gersang di barat laut benua Australia yang diperkirakan berasal sebelum zmn es terbesar berakhir, “ungkap Peter Veth dari Austrlian National University seperti dikutip AFP kemarin.
Velt memaparkan teknik yang dinakan timnya dalam menentukan usia fosil terseut. Menurut pengakuan Velt, tim arkeoog menggunakan teknik OSL (optically stimulated luminescence).
Metode itu digunkan usia lapisan endpan pada artevak ataupun fosil yng ditemukn. Yaitu, dengan mengukur waktu yng dilewati fosil tersebut sejak mengalami endpn pertam secra geologis. Atau, kpn tepatnya fosil itu terxpose sinr matahari utuk kali terakhir.
“Ini adalah poyongan pertama. Penemuan pertama saat setiap orang mencari adanya (kemungkinan okupansi manusia di Austrlia). Dan, kami menemukannya. Jadi, ini adalah permuln dari 25 tahun penelitian selama ini., “ paparnya.
Fosil ini ditemukan 2008 lalu dan baru dipublikasikan di hdapn public kemarin. Sebelumnya, Velt bersama sejumlah tim melakukan tes untuk mendapatkn tanggl dn bukti okupansi yang akurat. Penemuan ini dipercaya semakin memperkaya sumber data terkait okupansi pertm di Australia. Sementara itu fosil manusia tertua ditemukan di timur New South Wales pada 1969 dn diperkirakan baru berusia 40.000 tahun.

Journalist Blog Competition 2k11

Mengapa Kami Layak menjadi Peserta Journalist Blog Competition 2k11 ?
Dunia jurnalistik membuat kami berapi-api untuk menjelajahi segala ruang dan waktu. Mengalahkan telinga ini berdenging, karena banyak orang mencibir bahwa writer dan photographer tidak lebih baik dari anggota dewan. Kami jadikan ejekan, hinaan, dan hambatan ini sebagai batu lompatan. Mengingat niat kami yang lebih berharga dari sebuah angka akademis, prestasi nilai, kekurangan fisik, dan apapun yang membuat kami berbeda dengan lingkungan kami. Ya, kami yakin “Kami Pantas menjadi Peserta Journalist Blog Competition 2k11” sebagai punggawa SMAN 1 Sidoarjo.
Mula-mula hampir tak pernah terjawab, pertanyaan yang bertaut di otak kami "Bagaimana menyajikan informasi yang berguna dan cerdas ?" Namun, begitu kami berkecimpung dalam ekstra kurikuler jurnalistik perlahan kami tahu. Bahwa untuk menulis dan membidik objek itu tidak bisa asal. Yang terpenting bagaimana sebuah tulisan dan foto bisa sinkron, mudah dimengerti dan menarik untuk terus dibaca.
Kebiasaan mengganti mading setiap bulan, mencetak buletin setiap semester, dan menerbitkan majalah siswa setiap tahun setidaknya menjadi ajang sederhana untuk memuaskan pembaca. Apalagi setelah sekolah menghelat JOURNEY (Journalist Education Day), artikel kami yang awal kali masih sarat dengan unsur subyektif, alur yang bebas meloncat, hasil foto yang tidak memperhatikan angle dan lighting, sedikit banyak mengalami perubahan walaupun tidak dengan serta merta. Darinya, kami dapatkan pembelajaran untuk memperbaiki kualitas informasi olahan kami setahap demi setahap.
Selama menjadi jurnalis kecil di SMAN 1 Sidoarjo, hal yang paling sering kami lakukan adalah wawancara. Mungkin biasa jika narasumbernya dari intern sekolah, namun menjadi luar biasa ketika sesekali kami mendapat kesempatan untuk menggali berita dari ekstern sekolah yang masih dalam satu kawasan tentunya. Kami beraksi layaknya reporter ulung, dalam rangka melatih kepiawaian sebagai tujuan diselenggarakannya JOURNEY. Narasumber yang kami temukan di medan hunting berita pun berasal dari banyak kalangan. Misalnya, penjaga palang kereta api dan beberapa pedagang makanan. Narasumber baru ini sekaligus tantangan kami ketika bernegosiasi, meyakinkan mereka agar kami memperoleh informasi yang sedetail-detailnya. Sehingga kami dapat membingkai fakta itu dalam satu gagasan secara unik, santai, namun bermutu. Bagi kami mengetahui kehidupan mereka membuat pandangan kita lebih luas, sehingga kita bisa lebih bijak. Itulah yang menjadikan kami tertarik untuk menggelutinya.
Konsistensi mengikuti insting jurnalistik, menyuarakan isi hati, serta mengungkapkan kebenaran dan ketidakadilan yang dibungkam, kami pikir merupakan simbol kebebasan berapresiasi yang selama ini dipandang sebelah mata. Bagaimana tidak, jika flash back sejenak tragedi tahun 2009 yang mengguratkan kesedihan masih lekat di ingatan kita. Tentang jurnalis Koran Radar Bali AA Narendra Prabangsa yang kembali ke haribaan Tuhan dengan cara terbunuh karena keberaniannya mengulik kasus penyimpangan proyek Dinas Pendidikan di Kabupaten Bangli.
Semangat kami untuk menjadi jurnalis profesional semakin menggebu-gebu, sejak Senior kami mengukir nama SMAN 1 Sidoarjo pada posisi 3rd place Journalist Blog Competition 2k10. Memang bukan perihal mudah, menyisihkan 60 tim pesaing. Mereka juga pasti saling beradu terutama dalam hal kecepatan dan mempertaruhkan kreativitasnya dalam merilis informasi.
Berbicara tentang jurnalistik tak pernah lepas dari deadline. Pemahaman kami, deadline merupakan cambuk untuk cekatan. Deadline mendidik kami menjadi jurnalis yang pintar terutama ketika deadline dibarengi ulangan. Karena jika jurnalis tidak lihai menyiasati pilihan, data yang semestinya menjadi informasi, malah menyesatkan pembaca.
Sejauh ini kami (Intan Suci -penulis dan Aditya Satya-fotografer) belum merengkuh prestasi apapun dibidang jurnalistik. Oleh karenanya, merupakan suatu penghargaan terbesar bagi kami apabila kami memperoleh kesempatan berlaga di Journalist Blog Competition 2k11 untuk membuktikan dedikasi kami.

Minggu, 21 Agustus 2011

SECRET IN FISIKA

Semenjak SMA, kurasa apa yang kumiliki dalam Fisika bukan sesuatu yang pantas dibanggakan, atau justru diragukan. Besaran dan Satuan. Menjadi awal bagaimana aku mulai mengenal Fisika di jenjang ini. 75, nilai yang sangat memalukan untuk ukuran materi yang pernah kudapatkan 3 tahun lalu. Tapi itulah kenyataannya, Fisika telah menjatuhkan vonis pada ulangan pertamaku di sekolah ini. Apa aku terlalu bermain-main dengannya ?
Beranjak ke bab berikutnya, “Vektor”. Aku sangat was-was. Bagaimana tidak, sampai jatuh hari dilaksanakannya ulangan ia masih melayang-layang dibias mataku. Begitu kertas ulangan dibagikan, “ahhh” rasanya mata ini tak kuasa meliriknya bahkan hanya untuk sebelah mata saja. Namun, semangatku tak pernah patah meskipun Fisika telah beberapa kali memenggalnya. Kucorat-coret naskah soal dengan angka-angka, kuhitung sebisanya. Sungguh rumit memang, walaupun angka terakhir yang kugoreskan tidak termuat dalam option. Ya, akhirnya dengan ragu karena kekuatan telepatiku sangat rendah kupilih option yang selisihnya paling sedikit dengan hitunganku. Hatiku bilang “Kamu tak tau diri. Caramu belum tentu benar, masih juga kamu gunakan metode pendekatan.”
Tak ada pengharapan dari ulangan kedua ini. Dari 10 soal diberikan, 7 soal hitungan dan 5 diantaranya tak bisa kupastikan. Dalam Al-Qur’an, “Mintalah padaku maka Aku akan memberikannya.” Tapi aku juga malu memohon pada Tuhan, karena aku sendiri teramat genting ketika itu.
Pertemuan berikutnya, Fisika memoles kertas jawaban yang kukumpulkan seminggu lalu dengan tinta merah “83”. Aku lantas tercengang. Pembelajaran berharga hari ini mendorongku untuk berguru pada temannya temanku dikelas lain, namun ini baru terlaksana 30 menit menjelang UAS semester 1.
Ketika itu aku terasa meregang nyawa kembali. Vektor masih mengganjal di otakku. Sementara Ekonomi jauh merasuk membuka sineps-sineps, meninggalkan vektor yang masih diujung rambutku. HHHH
2 minggu rehat setidaknya lebih dari cukup untuk 6 bulan bejibaku dengan Fisika. 6 bulan berikutnya, masih dalam setahun, Fisika menyuguhkan Pemuaian dan Kalor. Kali ini, takkan kubiarkan Fisika membuatku galau. Akan kukuasai ia sebelum ia menguasaiku. Dan sebelum ia mendepakku dari posisiku sekarang.
Thanks, Fisika menorehkan sesuatu yang tak tanggung-tanggung pada pengujung tahun ajaran. Dia ikut mengantarkanku untuk satu tingkat diatas semester lalu.
Tahukah anda ?
Beberapa hari ini, tanpa sadar kulakukan hal yang sama. Hingga akhirnya ada yang bertanya, “nggak ada PR lain selain melototi buku itu?” Oh...tuhan ternyata aku telah menapaki 86 dari 179 soal Fisika.
Hingga pada suatu ketika, aku mengetikkan clue pada kolom pencarian di Jejaring Sosial Facebook “FISIKA” dan aku bergabung disana bersama 5400 lainnya. Darinya, sering kusalin beberapa pertanyaan dan ku post kan jawabannya secepatnya.
sssssttttt, Diam-diam Aku suka Fisika. Karena Fisika ada disekitar kita. Innersia mempertahanku untuk tetap bergerak atau tetap diam selama tidak ada aktivitas lain yang kukerjakan (Hukum Newton 1), maka begitu aku beraksi pasti ada yang bereaksi (Hukum Newton 3). Seperti halnnya pada Roller Coster, apa jadinya kalau ketika berotasi tidak dengan kecepatan tinggi ? tentu anda terpental bukan ? Maka dari itu bersyukurlah karena ada gaya sentripetal yang bekerja.
Nah itulah, betapa Fisika ada dalam sesuatu yang anda anggap tidak penting . Dan semuanya akan mudah jika sudah biasa. Be calm dowm, Fisika tidak akan membuat anda tersesat.

Rabu, 17 Agustus 2011

It's Like a Angel Came by and Took Me to Heaven

Tersadar aku telah singgah di era ini. Ketika beberapa mata najwa mencibir sikapku yang demikian apatis. Kuhalau bibir orang yang mendesis aroma kebencian untukmu. Bertalu-talu terus mencerca latar belakangmu yang kurang beruntung. Karena aku percaya jiwa malaikat masih melingkupimu. Karena sebenarnya Kamu tiada akan pernah tahu bagaimana aku mengagumimu. Karena aku juga tidak mengerti bagaimana ini terjadi. Aku bodoh, mengapa kubiarkan rasa ini semakin menjadi ? Padahal aku tahu itu percuma. Aku telah berulang kali mencoba melepas rasa ini. Tapi sungguh terlalu berat. Dan akhirnya rasa ini membuncah, meraung dalam setiap melody yang pernah mengalun ditelingaku.
Aku melihatmu tanpa arti disini. Semakin kutatap lekat-lekat pun semakin daku merindukanmu. Tapi apa daya, asa ku takkan sampai untuk sekedar menggenggam erat tanganmu. Jadi, biarkanku terlarut dan semakin hanyut dalam luapan khayalku. Karena hanya ini yang kubisa. Mengukir raut wajahmu secara abstrak dalam duniaku yang terlalu silu. Don’t force me to wake up. These imagine are too beautiful to leave. If I can born to be somebody I’ll never say never. Because you said that now I got the world in my hand,
I was born from two stars, So the moon’s where I land and I’m used to going out' my way to impress these Mr. Wrongs. But I can be myself with you. Cause You'll take me as I’m. You know they said believe in love and it's a dream that cant be real. So you said me again to show 'um how we feel.
Sesekali aku kecewa padamu, tapi selalu ada saja alasan yang membuatku tetap tertahan. Kira-kira 1/1000 peluang untukku berpaling darimu. Kamu tahu ? Segerombolan formula vektor, aturan Hund, Aufbau, standart deviation dan apalah itu yang berjubel di otakku, selalu saja ada celah untuk kamu.
Ya, sekalipun sedetik saja aku belum pernah atau bahkan tidak akan pernah menatap bias matamu. Tapi cukup dilayar tak nyata ini setiap harinya. Dan itu sudah membuatku senang. Sungguh aku tak dapat memungkiri realita yang benar adanya. Bahwa ¼ dari ruang hatiku telah kosong, akibat motif suka yang mengguratkan harapan untuk memilikimu. Tapi tidak !!! Selamanya Aku hanya ingin menyayangi orang-orang yang diberi-Nya cinta. Sayang, kamu satu dari mereka yang tersesat.
Fenomena pada cermin datar yang lebar dan jernih. Titik fokusnya membentuk bayangan Bioma pada retina mataku. Kamu tergambar sebagai intan yang diangung-agungkan. Superstar hebat lintas negara dan benua. Sementara aku hanya umbra yang dikelilingi panubra dari bayangan itu. Atau sebutir debu rapuh yang terdampar di ekosistem padang pasir. Dan Aku hanyalah rakyat jelata, yang hanya dikenal oleh segelintir orang saja. Kira-kira seperti itulah jembatan pembeda yang terbentang diantara kita. Itulah yang membuatku tanpa enggan mengacakan diri.
Lama-lama, aku kehabisan kata-kata untuk menguntai rasa ini dalam seberkas kertas buram saja. Please, Don’t make me be regret, You had let me be Belieber in your BIEBER FEVER.
One note: Here I love you, I wanna you to know “SOMEDAY”.

Rabu, 29 Juni 2011

WARGA TANPA NEGARA = HIDUPI DUNIA TANPA JEDA

Kasus penyiksaan atau dehumanisasi TKI di luar negeri terus saja bergulir. Apa yang terjadi dianggap oleh negara sebagai kecelakaan wajar dalam dunia kerja atau resiko pergulatan hidup di luar negeri. Berangkat dari kasus itu, logis juka kita mengajukan gugatan, benartkah pekerja Indonesia di luar negeri (buruh migran) masih menjadi warga yang punya negara? Benarkah negeri ini masih merasa mempunyai rakyat yang sedang bergelut mengadu nasib dan berjuang di negeri lain? Tidakkah yang terus terjadi menimpa TKI menjadi indikasi bahwa mereka menjadi gologan “warga tanpa negara”?
Secara de jure, negara ini memang masih mengakui bahwa TKI yang bekerja di Malaysia, Brunei, Hongkong, Arab Saudi, Singapura, dan sejumlah negara lain yang menjadi “primadona” TKI adalah warganya. Akan tetapi, dalam realitasnya, negara ini belum menunjukkan jati diri sebagai negara yang tampil prima dalam membela, melindungi, dan mengadvokasinya.
Mereka (TKI) yag sudah memberikan banyak devisa kepada negeri ini, yakni lebih dari Rp 10 triliun per tahun, ternyata dibiarkan menjadi anak negeri yang nyaris mutlak sebagai objek perdagangan manusia (human trafficking) atau kekerasan individual (majikan) maupun kekerasan korporasi (perusahaan) secara terus-menerus dan berlapis.
Selama satu dekade terkhir, angka kematian buruh migram melambung. Tidak hanya meregang nyawa, mereka juga menjadi korban kekerasan dan penyiksaan. Angka kriminalitas tersebut menunjukkan terjadi penurunan martabat bangsa Indonesia di hadapan bangsa lain yang mengeksploitasi pekerja dari tanag air.
Data tersebut menunjukkan bahwa TKI yang bekerja di negara-negara lain menepati ranah layaknya menjalani hidup tanpa negara (life without state). Mereka tetap menyebut diri sebagai warga RI atau diakui oleh negara berstatus WNI, tetapi negara ini membiarkan harkat kemanusiaannya terus menerus diinjak-injak oleh bangsa, korporasi, majikan, dan khususnya bandit-bandit yang memperdagangkanya.
Mereka terpaksa menikmati pendritaan dalam diam atau menerima dehumanisasi yang menimpanya demi keberlanjutan hidup di negara lain. Sikap itu tak lepas dari perlakuan negara yang menempatkannya sebagai warga kelas dua (underprivilege) dan bukan elemen negara yang mempunyai hak hidup berkeadaban.
Negara sebatas bangga menerima kucuran uang triliunan rupiah dari pahlawan devisa. Negara kurang maksimal menindaklanjuti kebanggaannya itu dengan langkah humanis, progresif, dan cerdas dalam memediasinya. Negara baru menyiapkan antivirus ketika virusnya menampakkan (dipublikasikan) keganasannya dalam mencabik-cabik martabat TKI.
Ketika TKI sudah berada di luar negeri, pemerintah sebaiknya tidak sebatas menunggu laporan atau mendengarkan testimoni dari TKI yang bermasalah atau mencari kambing hitam kepada PJTKI yag diduga pelat hitam.
Stigmastisasi TKI sebagai warga tanpa negara akan berlanjut manakala yang disembuhkan oleh pemerintah hanya virus yang “sedikit” muncul ke permukaan. Kepahlawanan TKI terbatas sebagai gambaran komunitas serba tak berdaya di tangan elemen negara yang mengidap virus miskin kerja.
Inilah penderitaan yang membahasakan kondisi buramnya TKI di luar negeri. Mereka hanyalah sesosok warga tanpa jeda yang menghidupi dunia tanpa jeda, yang ternyata tak bisa dipandang sebelah mata.

Selasa, 14 Juni 2011

DONGENG ORANG PANDIR

Gema Politik bersua riuh. Presiden bernyanyi dan para menteri pun menari. KPK menabuh genderang sementara Fraksi DPR meraung. Ohooo....Ini berita bukan tentang Gayus lagi. Ya kecuali kalau ia berlabuh kembali di negeri orang.
Welcome, Opera Negeriku tengah diputar.
Bui menengadah, menantikan kepulangan Nunun Nurbaiti dari ketiak singa yang dikabarkan tervonis Amnesia Akut. “Hahahahah....”. Dasar orang pandir ! Lupa ???? Setelah uang yang ditilep itu mungkin sudah jadi feses di Pintu Air. Sungguh lupa ??? atau gagap nggak punya alasan sekelas Gayus ???? Tapi boleh juga dicatat sebagai bahan ujian nasional.
Nyontek dan ngrepek tabu kan ? Apalagi browsing ? Tapi kalau open book kan nggak ! Nah, kalau tertangkap mata pengawas bilang “Apa yang saya lakukan, Pak/Bu ? Saya lupa !” nggak sulit ditebak, pengawas pasti dengan geram menimpali “You’re too foolish. Anak ingusan juga tahu yang kamu lakukan. Berlagak lupa lagi !” Jangan takut. Jawab dengan nada ringan, “Nunun kan juga gitu, Pak/Bu ? If I too foolish, Nunun ????” Dengan jawaban itu, pengawas pasti akan mikir 1000 kali bahkan lebih untuk menulis diberita acara.
Coba bayangkan, kalau semua pencuri atau pembunuh yang tercekal kemudian takut dirajam bertindak seperti Nunun, Sule dan Opera Van java pasti gulung tikar. Negeri ini nggak butuh komedian lagi, sebab negeri ini panggung komedi terkonyol didunia.
Eits ! Jangan pindah chanel. Saksikan lanjutan cerita Melinda-Dee. Koruptor yang harus operasi karena sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Ada lagi Nasaruddin, dan mungkin masih banyak lagi yang belum tercekal. Uniknya, setiap abdi negara yang tersandung masalah, pasti larinya ke Singapore. Logikanya, negeri itu bisa tambah kaya dengan devisa sumbangan pelarian.
Apa, istana negara kandangnya koruptor ? Ohhh....tidak. Kalau Indonesia ladang pembajakan, bumi teroris, mungkinkah istana negara juga kandang koruptor ?
Aku kian tertawa menggelitik. Mereka bertingkah seperti orang kolot yang primitive. Mereka berpikir dangkal sekali, mengira kita ini orang awam yang gede fisik mental NOL.
sadarkah ? Even terjadi di Indonesia setiap waktu, dan seketika itulah terjadi ajang perdebatan.
1. 5 tahun sekali pemilu, its mean: minimal 5 tahun sekali KPU dihunjam demonstran dan tuntutan partai
2. Sepakbola, juga tak kalah ikut andil ambil masalah. Mulai dari Nurdin Halid sampai sanksi FIFA
3. Kira-kira Great Concern Justin Bieber di Gedung Internasional Sentul, Jakarta mengisap masalah ?